Langsung ke konten utama

Juli, Bulan Pertama

Selepas kau pergi, adakah ruang untukku melupakan?

Matahari masih sama, teriknya masih menusuk ke dalam. Terbangun dari kematian yang sementara, aku rasa semua suasananya masih sama seperti keseharian yang biasa dilakukan.
Kuikat sabuk dalam pinggang, kuseduh secangkir kopi, menikmati hari, menjalani profesiku sebagai penghuni warung kopi. Ya, aku bukanlah seorang master cheff yang ahli dalam bidangnya, jangan bilang juga aku adalah pengusaha besar. Apalagi, sampai kalian menyangka aku ini seorang abdi negara. Jangan salah sangka, dari secangkir kopi yang aku nikmati, adalah 1 sachet kopi yang biasanya aku jual pada makhluk lain. Hanya saja, rugi sekali bila aku melayani semua orang terus menerus, tanpa melayani aku, diriku.
Kopiku masih sama, pahit dan asam bercampur ke dalam imajinasiku untuk berpikir. Memikirkan satu hal yang anehnya aku belum memikirkan sebelumnya. Kugenggam smartphone kesayanganku tiap pagi, selalu itu-itu saja dan tidak berubah. Hanya kurang! Siapa yang biasanya kuucapkan selamat pagi? Kemana dia? Menghilang? Oh tidak, terbalik sepertinya. Ya, dia yang biasanya selalu mengabarkan padaku setiap pagi, pagi yang kala itu redup tak ada matahari. Sebuah ucapan dan bagai laporan padaku selalu menghiasi keindahan setiap pagi, seperti penyemangat tersendiri untuk aku si penghuni warung kopi. Bosan! Barangkali itu yang dipikirkannya, kenapa selalu dia pengawal pagi? Kenapa selalu dia muqaddimah dari setiap tulisan singkat kita? Dan, apakah semuanya berlanjut terus menerus? Mungkin itu yang ada dalam benaknya, membuat dia berpikir keras untuk mengakhiri semuanya. "Dasar egois! Penghancur! Munafik! Bangsat!" itu semua memang pantas untukku sang Maha Raja yang ingin menang sendiri, ingin dimengerti, ingin dipeduli, sampai akhirnya sang pelayan pun merasa lelah dan memilih untuk pergi. Pergi dari kehidupan sang Maha Raja, pergi untuk mencari pelayan, sehingga dia bisa merasakan menjadi seorang Ratu, Ratu yang begitu dicintai Sang Maha Raja.


Aku sang Raja, bukan diktator
Aku sang Raja, aku memiliki rakyat
Rakyatku, rakyatmu. Ratuku
Aku hanya mengasihi mereka, bukan mencintai
Tolong mengertilah, kau bukan pelayan




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mei, bulan kesebelas

Rahmat Tuhan datang di purnama ini, Ramadhan yang suci. Aku merasa bersalah pada Tuhan, sudah berturut-turut aku merusak ramadhan saat itu. Aku tidak pernah baik bahkan suci untuk melakukan semua itu. Yang jelas aku hanya ingin sedikit lebih jujur pada diri sendiri bahwa sebenarnya sudah saatnya untuk mendewasakan diri. Belajar lebih jujur untuk diri sendiri, tidak munafik untuk melakukannya. Sudah datang kali ini, Di bulan sabit awal yang baik Ada pengagumnya ternyata Aku mencintai pengagum sabit itu Memulai Ramadhan dengan suasana berbeda tentu saja itu pilu, dimulai dengan harus memulai hidup yang lebih bersih dan disiplin. Meskipun itu memang untuk kebaikan bersama. Tapi tetap saja kadang merasa malas untuk melakukannya. Ditambah lagi dengan kesibukan yang membuat so sibuk, merasa aku adalah makhluk paling sibuk di Bumi. Sibuk bekerja, sibuk menjadi sedikit baik, sibuk juga mengingatmu. Tentu saja. Berbeda tidak harus tentang sedih, kali ini aku hanya ingin sedikit menyamp...

Maret, bulan kesembilan

Demikian pula dengan rencana, aku tidak pernah menyangka Maretku akan sebahagia ini. Sangat diluar dugaan ketika aku berani untuk memulai kembali, rencana memang hebat. Tidak ada yang tahu akhirnya seperti apa, tapi kita benar-benar diharuskan untuk menerima. Bingung sepertinya jika harus digambarkan kebagiaan yang sedang terjadi saat ini, dimana disisi lain banyak korban yang berjatuhan di purnama ini. Dengan wabah yang tidak dipersilahkan datang, malah memaksa masuk untuk ikut campur dalam kebahagiaanku. Mengapa tidak dibunuh saja orang-orang seperti mereka yang bawa-bawa penyakit, kenapa harus diobati yang bahkan mereka saja tidak peduli pada kesehatan dan kebahagiaan kita. Tapi tidak dengan dia yang sudah diciptakan satu paket dengan Humanitarianisme nya, aku menghargai itu bahkan aku mulai peduli dan senang. Aku selalu ingin tahu apa saja kegiatan yang dia lakukan untuk melakukan kepedulian pada orang lain yang bahkan dia sendiri tidak mengenalnya, aku selalu ingin mende...

Februari, bulan kedelapan

Hidup adalah beberapa fase dimana kita bisa berjalan dan melangkah di sepanjang perjalanannya, hidup adalah sesuatu hal yang kita tidak bisa melakukanya menjadi bisa, melakukan hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Menikmati setiap suguhan yang dianugerahkan, menjadi sebuah tantangan dan kebanggaan. Ketika merasa penat dengan segala sesuatu yang menurutmu ribet, kau hanya perlu menghadapinya dan selesai, kau tidak perlu berpikir sebab itu malah bisa menambah keribetanmu. Saat kau masuk dalam kegelapan, kau hanya perlu melakukan apa yang bisa kamu lakukan, jangan memohon mohon penerangan pada orang yang dia sendiripun butuh penerangan, itu percuma dan buang-buang waktu. The dark is Art Dan bahkan menurutku, aku lebih suka gelap dan hitam. Dia tidak pernah munafik, dia selalu menerima warna lain dan tidak pernah ikut campur pada mereka. Dan gelap, gelap tidak pernah memintaku untuk membuatnya terang, dia hanya menginginkanku untuk tetap melihat kenyataannya kalau sebenarnya...