Selepas kau pergi, adakah ruang untukku melupakan?
Matahari masih sama, teriknya masih menusuk ke dalam. Terbangun dari kematian yang sementara, aku rasa semua suasananya masih sama seperti keseharian yang biasa dilakukan.
Kuikat sabuk dalam pinggang, kuseduh secangkir kopi, menikmati hari, menjalani profesiku sebagai penghuni warung kopi. Ya, aku bukanlah seorang master cheff yang ahli dalam bidangnya, jangan bilang juga aku adalah pengusaha besar. Apalagi, sampai kalian menyangka aku ini seorang abdi negara. Jangan salah sangka, dari secangkir kopi yang aku nikmati, adalah 1 sachet kopi yang biasanya aku jual pada makhluk lain. Hanya saja, rugi sekali bila aku melayani semua orang terus menerus, tanpa melayani aku, diriku.
Kopiku masih sama, pahit dan asam bercampur ke dalam imajinasiku untuk berpikir. Memikirkan satu hal yang anehnya aku belum memikirkan sebelumnya. Kugenggam smartphone kesayanganku tiap pagi, selalu itu-itu saja dan tidak berubah. Hanya kurang! Siapa yang biasanya kuucapkan selamat pagi? Kemana dia? Menghilang? Oh tidak, terbalik sepertinya. Ya, dia yang biasanya selalu mengabarkan padaku setiap pagi, pagi yang kala itu redup tak ada matahari. Sebuah ucapan dan bagai laporan padaku selalu menghiasi keindahan setiap pagi, seperti penyemangat tersendiri untuk aku si penghuni warung kopi. Bosan! Barangkali itu yang dipikirkannya, kenapa selalu dia pengawal pagi? Kenapa selalu dia muqaddimah dari setiap tulisan singkat kita? Dan, apakah semuanya berlanjut terus menerus? Mungkin itu yang ada dalam benaknya, membuat dia berpikir keras untuk mengakhiri semuanya. "Dasar egois! Penghancur! Munafik! Bangsat!" itu semua memang pantas untukku sang Maha Raja yang ingin menang sendiri, ingin dimengerti, ingin dipeduli, sampai akhirnya sang pelayan pun merasa lelah dan memilih untuk pergi. Pergi dari kehidupan sang Maha Raja, pergi untuk mencari pelayan, sehingga dia bisa merasakan menjadi seorang Ratu, Ratu yang begitu dicintai Sang Maha Raja.
Aku sang Raja, bukan diktator
Aku sang Raja, aku memiliki rakyat
Rakyatku, rakyatmu. Ratuku
Aku hanya mengasihi mereka, bukan mencintai
Aku sang Raja, aku memiliki rakyat
Rakyatku, rakyatmu. Ratuku
Aku hanya mengasihi mereka, bukan mencintai
Tolong mengertilah, kau bukan pelayan
Komentar
Posting Komentar