Langsung ke konten utama

Agustus, Bulan Kedua


Terdengar jelas suara lantunan adzan saat hari ini ingin mengganti dirinya dengan esok. Malam memisahkan mereka, membuatku harus menguras lagi pikiranku dalam keheningannya. Untungnya saat itu aku ingat Tuhan, seperti memanggilku dalam lubuk hati yang biasanya dipenuhi dengan kemunafikan.
"Relakanlah" sepertinya kata Tuhan begitu. Datang kala itu cermin didepanku yang membuat aku malu sendiri, tertawa, dasar gila! Sembab, memerah, sangat malu! Pantaskah aku sebagai laki-laki yang akan menjadi tulang punggung rakyatku melemah hanya sebab salah satu anak Hawa? Begitukah? Apa aku diciptakan hanya untuk itu? Dan, apakah seorang pejantan tidak diperbolehkan sedikit meluapkan amarahnya dengan cara membuatnya malu pada diri? Aku rasa sangat baik, daripada aku harus menghancurkan, anarkis, kasar, seperti binatang jalanan.
Masih ingat waktu itu, esok adalah hari bersejarahnya. Dimana dia memasuki zona terbaik dalam hidupnya, zona dimana dia akan mengulang kembali memori dimana dia dilahirkan, tapi aku menghancurkannya. Hai Bumi! Apa dia menunggu ucapanku? Sepertinya tidak, terlalu berharap saja diriku ini. Ya, dia sampai di hari kelahirannya. Aku sama sekali tak hadir dalam angannya, tidak kukatakan sama sekali. Tapi perlu kau tahu, aku sudah lebih dahulu mengadu pada Tuhan. Bukankah semua itu tak perlu publikasi? Maaf jika membuatmu tak enak hati. Rasanya aku sudah tak mempunyai hak lagi untuk ikut campur dalam kebahagiaanmu. Dari hal itukah dia datang padamu? Berlaga seperti pujangga datang mengatakan "selamat ulang tahun . . . . . ." cukup baik gayanya. Membuat aku yang dibelakangnya tidak terlihat sama sekali. Rasa senang bekecamuk dengan terkoyaknya hati menghambat perjalananku ke rumahnya, sudahlah! Biar kusimpan saja, mungkin Bumi belum mengizinkan. Bingung, sangat buntu, kepala yang dipenuhi dengan kebodohan membuat rasa seakan menjadi penguasa.
Satu abad pun berlalu, kau tahu? Aku seperti sudah menginjak alam Tuhan yang lain, merasakan waktu bergerak begitu lambat dari biasanya. Rasanya aku sudah mati, logikaku saja.
Merdeka! Sangat terdengar jelas di hari kelahiran Tanah Air. Merdeka? Apanya yang merdeka? Aku tidak mengerti pikiran mereka, atau mereka yang tidak punya berkas yang belum terbakar? Aneh sekali, aku seperti tak mau ikut campur dulu. Dimana saat diluar sana banyak orang yang merayakan kemerdekaan, disini aku masih teringkup dalam lapas Nusakambangan. Ya, penjara yang ditakuti banyak orang. Kejam, sadis, tidak mengenal rasa baik, yang ada, hanya balasan dari perbuatan jahat. Sadarlah, mereka manusia, ada sisi baiknya, kau tak lihat? Wajar, hanya buruknya saja yang kau pedulikan, tidak melihat apa yang mereka lakukan dibelakangmu. Mungkin seperti itu matamu memandangku, dengan penuh kesakitan, kau hanya melihat jiwa iblis dalam diriku, kejam, penghasut, bermuka dua. Sampai kau cari malaikatmu yang sebelumnya dia sudah menunggu, menunggu kau yang terkekang dari jeratan iblis, menunggu kau yang sebentar lagi bebas dari Sang Raja.
Kau bebas! Tapi kau tetap Ratuku.
Bumi seperti tak henti-hentinya memberiku bonus, dia seperti ingin menunjukan penghuninya yang lain. Tapi maaf Tuhan hamba-Mu lancang, aku masih sibuk bersabar. Bila memang kau ingin memberiku ciptaan-Mu yang lain, datangkanlah hujan ke Bumi. Supaya aku tak perlu lagi melihat tapak jejaknya, melihat sebuah karyamu kala itu yang aku temukan dalam singgasana nirwana.
Sungguh Tuhan, aku tidak mau apa-apa. Kau pasti tau mauku, kenapa kau tak beri saja itu?
Selamat malam, cukup aku yang susah kali ini. Kau tak perlu ikut campur, silahkan rehat saja dulu, kabarmu sudah cukup membuatku untuk bersabar. Aku rindu, maaf jika aku tak tahu diri.
Tidurlah! Matamu terlalu lelah, jangan kau rusak indahnya. Kau tau? Mentari menunggumu, sepertiku.
Purnama sebentar lagi tua, aku bukan penulis atau seorang puitis yang slalu mengumbar curahannya kepada siapa saja. Aku juga bukan seorang maestro yang slalu menampakan keindahan musiknya pada siapapun.
Aku hanya pengagum, pengagumu.
Semua kiasan yang terucap dariku, semua petikan alunan musikku, itu hanya untukmu dan orang lain tak berhak tau. Aku selalu berpikir seperti layaknya seorang hambamu, yang slalu kusuguhkan pujaan kala aku memikirkanmu. Sayang, Tuhan menghadirkan sosok lain, membuatku berpikir arah. Arah dimana kupikir semua lantunanku itu hanya untuk satu ciptaan-Nya. Ternyata tidak, orang lain berhak tau, dan kau harus tunjukan pada Semesta jika kau punya Mahakarya. Dia indah, slalu membuatku tau caranya mengungkapkan, tau caranya menghadapi kau, tau caranya membahagiakanku, dengan caranya.
Sampai akhirnya, aku memutuskan untuk memulai. Memulai semua ungkapanku yang sebelumnya itu hanya untukmu saja, memulai untuk tidak peduli dengan cibiran orang, memulai melupakanmu.
Ini awalku, dengarkanlah!
Selamat pagi cinta,
Hari ini sudah pagi, namun mentari tak menunjukan wujudnya kali ini.
Sepertimu, hadir ke Bumi
Tapi tak lagi menunjukannya padaku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mei, bulan kesebelas

Rahmat Tuhan datang di purnama ini, Ramadhan yang suci. Aku merasa bersalah pada Tuhan, sudah berturut-turut aku merusak ramadhan saat itu. Aku tidak pernah baik bahkan suci untuk melakukan semua itu. Yang jelas aku hanya ingin sedikit lebih jujur pada diri sendiri bahwa sebenarnya sudah saatnya untuk mendewasakan diri. Belajar lebih jujur untuk diri sendiri, tidak munafik untuk melakukannya. Sudah datang kali ini, Di bulan sabit awal yang baik Ada pengagumnya ternyata Aku mencintai pengagum sabit itu Memulai Ramadhan dengan suasana berbeda tentu saja itu pilu, dimulai dengan harus memulai hidup yang lebih bersih dan disiplin. Meskipun itu memang untuk kebaikan bersama. Tapi tetap saja kadang merasa malas untuk melakukannya. Ditambah lagi dengan kesibukan yang membuat so sibuk, merasa aku adalah makhluk paling sibuk di Bumi. Sibuk bekerja, sibuk menjadi sedikit baik, sibuk juga mengingatmu. Tentu saja. Berbeda tidak harus tentang sedih, kali ini aku hanya ingin sedikit menyamp...

Maret, bulan kesembilan

Demikian pula dengan rencana, aku tidak pernah menyangka Maretku akan sebahagia ini. Sangat diluar dugaan ketika aku berani untuk memulai kembali, rencana memang hebat. Tidak ada yang tahu akhirnya seperti apa, tapi kita benar-benar diharuskan untuk menerima. Bingung sepertinya jika harus digambarkan kebagiaan yang sedang terjadi saat ini, dimana disisi lain banyak korban yang berjatuhan di purnama ini. Dengan wabah yang tidak dipersilahkan datang, malah memaksa masuk untuk ikut campur dalam kebahagiaanku. Mengapa tidak dibunuh saja orang-orang seperti mereka yang bawa-bawa penyakit, kenapa harus diobati yang bahkan mereka saja tidak peduli pada kesehatan dan kebahagiaan kita. Tapi tidak dengan dia yang sudah diciptakan satu paket dengan Humanitarianisme nya, aku menghargai itu bahkan aku mulai peduli dan senang. Aku selalu ingin tahu apa saja kegiatan yang dia lakukan untuk melakukan kepedulian pada orang lain yang bahkan dia sendiri tidak mengenalnya, aku selalu ingin mende...

Februari, bulan kedelapan

Hidup adalah beberapa fase dimana kita bisa berjalan dan melangkah di sepanjang perjalanannya, hidup adalah sesuatu hal yang kita tidak bisa melakukanya menjadi bisa, melakukan hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Menikmati setiap suguhan yang dianugerahkan, menjadi sebuah tantangan dan kebanggaan. Ketika merasa penat dengan segala sesuatu yang menurutmu ribet, kau hanya perlu menghadapinya dan selesai, kau tidak perlu berpikir sebab itu malah bisa menambah keribetanmu. Saat kau masuk dalam kegelapan, kau hanya perlu melakukan apa yang bisa kamu lakukan, jangan memohon mohon penerangan pada orang yang dia sendiripun butuh penerangan, itu percuma dan buang-buang waktu. The dark is Art Dan bahkan menurutku, aku lebih suka gelap dan hitam. Dia tidak pernah munafik, dia selalu menerima warna lain dan tidak pernah ikut campur pada mereka. Dan gelap, gelap tidak pernah memintaku untuk membuatnya terang, dia hanya menginginkanku untuk tetap melihat kenyataannya kalau sebenarnya...