Hujan sudah datang di awal purnama ini, bukan di penghujung Desember ternyata. Baguslah, aku tidak perlu repot-repot lagi untuk menghapus jejaknya sendirian. Dalam kehidupan sudah menjadi hukum alam, ada orang yang berjalan diatas tanah, ada juga orang yang merangkak dalam tanah. Menyadari hidup tidak selamanya dengan apa yang dikehendaki, dengan apa yang ditakuti, tapi dengan apa yang dijalani. Tuhan sudah mengatur siasatnya, siasat yang baik, untuk jalan yang lebih baik. Ada orang yang bisa menerima, ada juga orang yang sulit untuk menerima. Menerima untuk ditinggalkan, menerima untuk meninggalkan. Menerima dengan kedatangan, menerima dengan lapang.
Waktu terus berjalan dalam dimensinya, berjalan sesuai tugasnya, Bumi yang perlahan dilahapnya begitu pengaruh pada kita sebagai penghuninya. Tidak ada kata melawan pada waktu, tapi mempersiapkan itu yang harus kita tahu. Sayang, usiaku sudah tidak bisa dikatakan lagi anak remaja. Mempersiapkan hari tua, dan untuk anak-anak kita, sayang.
Kau sudah berbeda
Dengan perbedaanmu
Takdir kita sudah selesai
Dari kita yang sejalan
Menjadi kita yang bersebrangan
Dengan perbedaanmu
Takdir kita sudah selesai
Dari kita yang sejalan
Menjadi kita yang bersebrangan
Adalah nanti, aku ingin banyak berbincang tentang waktu. Tentang waktu yang ingin berkata, bukan hanya memangsa. Esok kebetulan temanku ingin membantu, membantu banyak waktunya untuk mengisi semua "tentang waktu". Bahkan bukan hanya esok, mungkin seterusnya. Nanti, kita berbincang ya. Spotify yang baik sudah menyediakan dengan baik untuk orang-orang yang ingin berbincang banyak, bukan hanya tentang rasa, bukan juga hanya tentang waktu. Kita mulai darimana?
Aku ibarat anakmu
Lahir ke Bumi, dengan perintah membahagiakanmu
Aku ibarat anakmu
Memandangmu, adalah kenyamanan
Aku ibarat anakmu
Berjalan dan berlari, penuh harapan ditangannya
Aku ibarat anakmu
Semakin tangguh, semakin sungguh untuk menyayangi
Aku ibarat anakmu
Mengapa tak tulus saja kau yang sayang?
Aku ibarat anakmu
Pergi saat jenuh dirumah, sore pulang dengan indah
Aku ibarat anakmu
Kau rela dia usir? Atau kau yang pergi dari janinmu sendiri
Aku ibarat anakmu?
Atau aku ayah dari anak-anakmu?
Lahir ke Bumi, dengan perintah membahagiakanmu
Aku ibarat anakmu
Memandangmu, adalah kenyamanan
Aku ibarat anakmu
Berjalan dan berlari, penuh harapan ditangannya
Aku ibarat anakmu
Semakin tangguh, semakin sungguh untuk menyayangi
Aku ibarat anakmu
Mengapa tak tulus saja kau yang sayang?
Aku ibarat anakmu
Pergi saat jenuh dirumah, sore pulang dengan indah
Aku ibarat anakmu
Kau rela dia usir? Atau kau yang pergi dari janinmu sendiri
Aku ibarat anakmu?
Atau aku ayah dari anak-anakmu?
Kemarin malam pulangku sangat larut, dini hari saat tiba dirumah begitu sangat melelahkan. Paginya pekerjaan sudah menunggu melambaikan tangannya mengundangku, akhirnya hingga sekarang menjadi makanan sehari-sehari. Malam aku pergi dan pulang, paginya aku pergi dan pergi, dan pergi. Sangat padat hari ini, dan besok, lelap dengan lelah meskipun sewaktu-waktu ada rasa yang datang dalam mimpi dini hari.
Kamarku menunggu dengan sabar kepulanganku, menunggu pemiliknya untuk pulang dan tidur. Yang aku tahu, besok ada pekerjaan dan bekerja, bertemu bos, klien, rekan kerja, berkarya, belajar, dosen, teman kuliah, kantin kampus, Nasi goreng Bi Yani, kopi, tugas, menulis, berbincang, dan tertawa, selain itu aku tidak mau tahu.
Kamarku menunggu dengan sabar kepulanganku, menunggu pemiliknya untuk pulang dan tidur. Yang aku tahu, besok ada pekerjaan dan bekerja, bertemu bos, klien, rekan kerja, berkarya, belajar, dosen, teman kuliah, kantin kampus, Nasi goreng Bi Yani, kopi, tugas, menulis, berbincang, dan tertawa, selain itu aku tidak mau tahu.
Banyak buah yang aku tuai di Oktober ini, saat melupakan yang aku utamakan. Namun banyak hal lain diluar dugaan, berawal dari kaki melangkah pada satu tujuan untuk singgah di persimpangan, nyatanya di Bumi ini tidak hanya ada satu belokan. Setiap orang punya tujuannya masing-masing, ketika harapan ingin mendapatkan tujuan yang sama, mengapa harus dengan jalan yang berbeda? Kenapa tidak dengan berjalan sejajar disamping orang yang telah lama datang dan menceritakan tujuannya padamu. Oh ya, orang itu terlalu mementingkan diri katanya. Ya, mementingkan diri sendiri.
Akhir purnama ini tak banyak yang ingin aku catat, selain hari yang membuatku lebih sibuk, disisi lain aku ingin lebih menyenangkan diri sendiri. Banyak berbincang juga di platform baruku, link di bio ya teman. Mari kita banyak bercakap dengan waktu dan lebih bersahabat dengannya, bukan melawan.
Siapa tahu di November bahkan Desember nanti, Tuhan kembali wujudkan karya terindahnya. Hehe
Siapa tahu di November bahkan Desember nanti, Tuhan kembali wujudkan karya terindahnya. Hehe
Kuselesaikan catatannya malam ini
Malam bersejarah, Sumpah Pemuda
Setangguh pejuang
Tidurnya berkurang
Kusumpahkan sumpah pemudaku nanti
Kepadamu
Malam bersejarah, Sumpah Pemuda
Setangguh pejuang
Tidurnya berkurang
Kusumpahkan sumpah pemudaku nanti
Kepadamu
Selamat malam cantik
Komentar
Posting Komentar