Langsung ke konten utama

Oktober, Bulan Keempat


Hujan sudah datang di awal purnama ini, bukan di penghujung Desember ternyata. Baguslah, aku tidak perlu repot-repot lagi untuk menghapus jejaknya sendirian. Dalam kehidupan sudah menjadi hukum alam, ada orang yang berjalan diatas tanah, ada juga orang yang merangkak dalam tanah. Menyadari hidup tidak selamanya dengan apa yang dikehendaki, dengan apa yang ditakuti, tapi dengan apa yang dijalani. Tuhan sudah mengatur siasatnya, siasat yang baik, untuk jalan yang lebih baik. Ada orang yang bisa menerima, ada juga orang yang sulit untuk menerima. Menerima untuk ditinggalkan, menerima untuk meninggalkan. Menerima dengan kedatangan, menerima dengan lapang.

Waktu terus berjalan dalam dimensinya, berjalan sesuai tugasnya, Bumi yang perlahan dilahapnya begitu pengaruh pada kita sebagai penghuninya. Tidak ada kata melawan pada waktu, tapi mempersiapkan itu yang harus kita tahu. Sayang, usiaku sudah tidak bisa dikatakan lagi anak remaja. Mempersiapkan hari tua, dan untuk anak-anak kita, sayang.

Kau sudah berbeda
Dengan perbedaanmu
Takdir kita sudah selesai
Dari kita yang sejalan
Menjadi kita yang bersebrangan


Adalah nanti, aku ingin banyak berbincang tentang waktu. Tentang waktu yang ingin berkata, bukan hanya memangsa. Esok kebetulan temanku ingin membantu, membantu banyak waktunya untuk mengisi semua "tentang waktu". Bahkan bukan hanya esok, mungkin seterusnya. Nanti, kita berbincang ya. Spotify yang baik sudah menyediakan dengan baik untuk orang-orang yang ingin berbincang banyak, bukan hanya tentang rasa, bukan juga hanya tentang waktu. Kita mulai darimana?

Aku ibarat anakmu
Lahir ke Bumi, dengan perintah membahagiakanmu
Aku ibarat anakmu
Memandangmu, adalah kenyamanan
Aku ibarat anakmu
Berjalan dan berlari, penuh harapan ditangannya
Aku ibarat anakmu
Semakin tangguh, semakin sungguh untuk menyayangi
Aku ibarat anakmu
Mengapa tak tulus saja kau yang sayang?
Aku ibarat anakmu
Pergi saat jenuh dirumah, sore pulang dengan indah
Aku ibarat anakmu
Kau rela dia usir? Atau kau yang pergi dari janinmu sendiri
Aku ibarat anakmu?
Atau aku ayah dari anak-anakmu?

Kemarin malam pulangku sangat larut, dini hari saat tiba dirumah begitu sangat melelahkan. Paginya pekerjaan sudah menunggu melambaikan tangannya mengundangku, akhirnya hingga sekarang menjadi makanan sehari-sehari. Malam aku pergi dan pulang, paginya aku pergi dan pergi, dan pergi. Sangat padat hari ini, dan besok, lelap dengan lelah meskipun sewaktu-waktu ada rasa yang datang dalam mimpi dini hari.
Kamarku menunggu dengan sabar kepulanganku, menunggu pemiliknya untuk pulang dan tidur. Yang aku tahu, besok ada pekerjaan dan bekerja, bertemu bos, klien, rekan kerja, berkarya, belajar, dosen, teman kuliah, kantin kampus, Nasi goreng Bi Yani, kopi, tugas, menulis, berbincang, dan tertawa, selain itu aku tidak mau tahu.

Banyak buah yang aku tuai di Oktober ini, saat melupakan yang aku utamakan. Namun banyak hal lain diluar dugaan, berawal dari kaki melangkah pada satu tujuan untuk singgah di persimpangan, nyatanya di Bumi ini tidak hanya ada satu belokan. Setiap orang punya tujuannya masing-masing, ketika harapan ingin mendapatkan tujuan yang sama, mengapa harus dengan jalan yang berbeda? Kenapa tidak dengan berjalan sejajar disamping orang yang telah lama datang dan menceritakan tujuannya padamu. Oh ya, orang itu terlalu mementingkan diri katanya. Ya, mementingkan diri sendiri.
Akhir purnama ini tak banyak yang ingin aku catat, selain hari yang membuatku lebih sibuk, disisi lain aku ingin lebih menyenangkan diri sendiri. Banyak berbincang juga di platform baruku, link di bio ya teman. Mari kita banyak bercakap dengan waktu dan lebih bersahabat dengannya, bukan melawan.
Siapa tahu di November bahkan Desember nanti, Tuhan kembali wujudkan karya terindahnya. Hehe


Kuselesaikan catatannya malam ini
Malam bersejarah, Sumpah Pemuda
Setangguh pejuang
Tidurnya berkurang
Kusumpahkan sumpah pemudaku nanti
Kepadamu
Selamat malam cantik

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mei, bulan kesebelas

Rahmat Tuhan datang di purnama ini, Ramadhan yang suci. Aku merasa bersalah pada Tuhan, sudah berturut-turut aku merusak ramadhan saat itu. Aku tidak pernah baik bahkan suci untuk melakukan semua itu. Yang jelas aku hanya ingin sedikit lebih jujur pada diri sendiri bahwa sebenarnya sudah saatnya untuk mendewasakan diri. Belajar lebih jujur untuk diri sendiri, tidak munafik untuk melakukannya. Sudah datang kali ini, Di bulan sabit awal yang baik Ada pengagumnya ternyata Aku mencintai pengagum sabit itu Memulai Ramadhan dengan suasana berbeda tentu saja itu pilu, dimulai dengan harus memulai hidup yang lebih bersih dan disiplin. Meskipun itu memang untuk kebaikan bersama. Tapi tetap saja kadang merasa malas untuk melakukannya. Ditambah lagi dengan kesibukan yang membuat so sibuk, merasa aku adalah makhluk paling sibuk di Bumi. Sibuk bekerja, sibuk menjadi sedikit baik, sibuk juga mengingatmu. Tentu saja. Berbeda tidak harus tentang sedih, kali ini aku hanya ingin sedikit menyamp...

Maret, bulan kesembilan

Demikian pula dengan rencana, aku tidak pernah menyangka Maretku akan sebahagia ini. Sangat diluar dugaan ketika aku berani untuk memulai kembali, rencana memang hebat. Tidak ada yang tahu akhirnya seperti apa, tapi kita benar-benar diharuskan untuk menerima. Bingung sepertinya jika harus digambarkan kebagiaan yang sedang terjadi saat ini, dimana disisi lain banyak korban yang berjatuhan di purnama ini. Dengan wabah yang tidak dipersilahkan datang, malah memaksa masuk untuk ikut campur dalam kebahagiaanku. Mengapa tidak dibunuh saja orang-orang seperti mereka yang bawa-bawa penyakit, kenapa harus diobati yang bahkan mereka saja tidak peduli pada kesehatan dan kebahagiaan kita. Tapi tidak dengan dia yang sudah diciptakan satu paket dengan Humanitarianisme nya, aku menghargai itu bahkan aku mulai peduli dan senang. Aku selalu ingin tahu apa saja kegiatan yang dia lakukan untuk melakukan kepedulian pada orang lain yang bahkan dia sendiri tidak mengenalnya, aku selalu ingin mende...

Februari, bulan kedelapan

Hidup adalah beberapa fase dimana kita bisa berjalan dan melangkah di sepanjang perjalanannya, hidup adalah sesuatu hal yang kita tidak bisa melakukanya menjadi bisa, melakukan hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Menikmati setiap suguhan yang dianugerahkan, menjadi sebuah tantangan dan kebanggaan. Ketika merasa penat dengan segala sesuatu yang menurutmu ribet, kau hanya perlu menghadapinya dan selesai, kau tidak perlu berpikir sebab itu malah bisa menambah keribetanmu. Saat kau masuk dalam kegelapan, kau hanya perlu melakukan apa yang bisa kamu lakukan, jangan memohon mohon penerangan pada orang yang dia sendiripun butuh penerangan, itu percuma dan buang-buang waktu. The dark is Art Dan bahkan menurutku, aku lebih suka gelap dan hitam. Dia tidak pernah munafik, dia selalu menerima warna lain dan tidak pernah ikut campur pada mereka. Dan gelap, gelap tidak pernah memintaku untuk membuatnya terang, dia hanya menginginkanku untuk tetap melihat kenyataannya kalau sebenarnya...